Pemetaan Rawan Kekeringan Di Daerah Aliran Sungai Mata Allo

Main Article Content

Eka Nirwana
Roland A Barkey
Daud Malamassam

Abstract

Kekeringan adalah kondisi ketersediaan air yang berada di bawah kebutuhan rata-rata minimum untuk kehidupan, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kekeringan pada tahun 2018 dan proyeksinya pada tahun 2032 serta untuk membandingkan defisit kadar air tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mata Allo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model SWAT (Soil and Water Assessment Tool). Data input dalam model SWAT meliputi kemiringan lahan, jenis tutupan lahan, iklim, dan jenis tanah. Output dari model SWAT yang digunakan untuk menentukan tingkat kekeringan DAS adalah nilai Kadar Air Tanah (SW). Tingkat kekeringan di DAS Mata Allo berdasarkan tutupan lahan pada tahun 2018 diklasifikasikan menjadi 2 kelas, yaitu wilayah dengan kategori sangat rendah sebesar 45% dan rendah sebesar 55% dari total luas DAS Mata Allo. Sementara itu, berdasarkan rencana pola ruang tahun 2032, wilayah dengan kategori sangat rendah sebesar 38,51% dan rendah sebesar 61,49%. Berdasarkan uraian penelitian ini, dapat dikategorikan bahwa tingkat kekeringan di DAS Mata Allo masih tergolong sangat rendah dan rendah. Namun, dengan penerapan Pola Ruang pada tahun 2032, terjadi perubahan area dari sangat rendah menjadi sedikit lebih tinggi dengan tingkat kerentanan rendah. Gambaran tingkat kekeringan di DAS Mata Allo juga diperlihatkan oleh nilai kadar air tanah yang ada pada DAS tersebut. Perubahan tingkat kekeringan yang terjadi dari tahun 2018 hingga 2032 terjadi di beberapa sub-DAS yang mengalami defisit kadar air tanah, seperti sub-DAS 34, 35, 47, 58, 59, 61, 63, 64, 66, 74, 79, 82, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 93, 94, 96, 98, 100, 101, 102, 103, 105, 107, dan 109 di Kecamatan Mengkendek, Curio, Alla, Baroko, Masalle, Anggeraja, Baraka, Malua, Buntu Batu, dan Enrekang.

Article Details

Section
Articles